Minggu, 24 April 2016

Belajar Sepeda (roda dua)

Tepat saat Malik berumur 2tahun, kakek nini memberi hadiah sebuah sepeda kepada Malik. Sepeda berwarna merah lengkap dengan pedal untuk mengayuh serta 2 ban kecil tambahan agar tidak terjatuh. Sebenarnya ini bukan sepeda pertama Malik, ada sepeda orange pemberian Om Zulmi beroda dua tanpa pedal pengayuh, katanya sih bikin anak lebih cepet seimbang dari pada anak yang bersepeda roda 3 atau 4. Tapi sepeda orang ini PR banget buat orang tuanya, karena harus bungkuk-bungkuk memegang setir dan dudukan sepeda agar tetap seimbang dan bisa jalan. 
Sepeda merah Malik sengaja ditaruh di rumah kakek nini, karena lokasi rumah yang berada di lingkungan perumahan, memudahkan malik untuk bersepeda tanpa takut ditabrak mobil atau motor. Apalagi anak-anak tetangga banyak yang bersepeda dan kemudian menjadi teman main Malik. Jika sedang berkunjung ke rumah kakek nini, hampir setiap sore Malik bersepeda dengan teman-temannya. Hal ini tidak pernah dilakukan Malik di rumah kami, karena halaman yang tidak terlalu luas dan jalanan yang tidak memungkinkan untuk dilalui anak-anak kecil bersepeda.
Kebetulan taman belakang rumah kami memang sengaja diperuntukkan untuk tempat Malik bermain, saya memilih rumput gajah sebagai alas agar memudahkan malik berlarian, main sepak bola atau berlatih sepeda roda dua. Dan memang seperti yang saya rencanakan, beberapa latihan saja Malik berani mengendarai sepeda roda dua. Tentu saja sering jatuh, tapi karena halaman berumput jadi tidak menimbulkan luka gores yang menyakitkan, hanya beberpa memar dan lebam akibat terantuk badan sepeda. Namun, its okey lah... sekalian latihan kalo jatuh di medan yang lebih keras dan kasar. 
Malik semakin hari makin berani dan mahir mengayuh pedal, orang tua mana sih yang tidak bangga akan keberanian anaknya. Menurut kami, anak harus dilatih untuk selalu mencoba, berani dan pantang menyerah dengan apa yang diingikannya, dengan begitu Malik akan menjadi anak yang tangguh nantinya. Tapi dalam hati saya masih deg-degan dan takut jika nantinya Malik minta mengendarai sepeda di jalan raya, saya belum siap. Dan emtah kapan siapnya, mungkin nanti saat Malik sudah SMP :) Mungkin ketakutan saya berlebihan, tapi saya parno melihat kondisi jalan raya maupun jalan kecil di sekitaran rumah kami. Banyak motor, mobil dan bahkan truk melintas, seringnya pengguna motor dan mobil bukan orang yang bertanggung jawab. Maksud saya mereka seringkali hanya asal bisa nyetir mobil atau motor kemuadian seenaknya dijalanan, kebanyakan sih anak dibawah umur atau mereka yang tidak punya SIM. serem khan?
Emang paling bener kalo punya rumah di lingkungan perumahan, membuat aktifitas luar ruangan anak semakin mudah dan lebih aman. Saya dulu merasakan hal tersebut, saat usia SD tinggal di lingkungan perumahan dan memiliki teman main anak tetangga, hampir setiap sore bermain bersama, hanya sekedar bersepeda atau main inline skate bareng, sangat menyenangkan bagi saya. beruntuk rumah kakek nini di perumahan, Malik juga sedikit merasakan hal tersebut. 
Dan... betapa terkejutnya kakek nini saat tahu Malik bisa mengendarai sepeda roda dua. dan saya juga terkejut saat Malik sudah sangat berani bersepeda keliling komplek dengan teman-temannya tanpa didampingi orang tua, padahal malik anak paling muda di antara teman-temannya.  Alhamdulillah ...

Selasa, 17 November 2015

Anak Ayah Ibu yang Baik

Alhamdulillah kami sudah kembali menempati rumah kami. Iya rumah kami yang benar-benar rumah, bukan lagi sepetak kamar maupun yang harus memakai lift untuk menuju kerumah. Rumah yang memiliki halaman, sinar matahari cukup, ventilasi udara yang baik, ada mushola, dengar suara adzan and many more. Bukan rumah besar nan gedongan, meski pemberian bapak bukan dari hasil tabungan kami, tapi kami menyebut ini sebagai rumah. Rumah kami, Rumah ayah, Ibu dan Malik serta adik-adik malik kelak.
Malik mempunyai kamar sendiri, berisi mainan dan buku-buku kesukaannya. Dan betapa terkejutnya kami, saya dan suami, saat malik meminta ijin untuk tidur malam seorang diri di kamarnya sendiri. Pada malam pertama saya yang nggak bisa tidur karena terus menerus kepikiran Malik. Hahaha... Malik sudah makin besar dan ingin mandiri. Malah ibunya yang belum siap menerima kenyataan bahwa Malik makin mandiri seiring dengan bertambahnya usia. Sampai sekarang Malik tetap tidur di kamarnya, kecuali saat ia sakit atau Ayahnya dinas keluar kota, permintaan ayahnya agar Malik menemani saya saat malam. Anehnya Malik sering kurang nyenyak jika tidur bersama kami, ia merasa lebih nyaman tidur di kamarnya.
Permintaan Malik lainnya adalah seorang adik, dan beberapa adik lainnya juga. Maksudnya bukan hanya satu, tapi tiga atau empat orang adik. oke.. memang Malik sudah saatnya memiliki adik. Malik kerap bikut berdoa agar segera punya adik jika kami sedang sholat berjamaah. Semoga Allah mengabulkan permintaanmu, Nak..Amin!

Jumat, 07 Agustus 2015

Bahasa Ibu

Menurut wikipedia, bahasa ibu (bahasa asli, bahasa pertama; secara harafiah mother tongue dalam bahasa Inggris) adalah bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Dan orangnya disebut penutur asli dari bahasa tersebut. Biasanya seorang anak belajar dasar-dasar bahasa pertama mereka dari keluarga mereka. Bagi saya, bahasa ibu juga merupakan bahasa daerah tempat kita tinggali, begitu juga bahasa indonesia. Anak Indonesia harus bisa berbahasa Indonesia begitu juga bisa berbahasa daerah. 
Sekarang saya mengerti mengapa di sekolah dasar kita mempelajari bahasa indonesia dan bahasa daerah. Tapi sepertinya sekarang bahasa daerah mulai dihilangkan ya disekolah dasar? Dan sekarang beberapa sekolah dasar bahkan baby school dan PAUD mulai bilingual dengan bahasa asing. Kalo sedang jalan-jalan di mall surabaya beberapa kali saya bertemu dengan anak kecil yang menggunakan bahasa inggris saat berkomunikasi dengan nanny atau orangtuanya. Tapi kalo di Jakarta, 8 dari 10 anak yg kebetulan bertemu di mall rata-rata berbahasa inggris jika ngobrol dengan teman atau orang tuanya. Saya bisa menebak pasti mereka tidak fasih bahasa daerahnya. 
Dulu pernah kepikiran mengajarkan Malik menggunakan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari. Biar jago bahasa inggris, ga kayak ibunya. Ehm.. tapi makin kesini, kata ayahnya nanti pasti bisa, sekarang yang penting bisa bahasa indonesia yang baik dan benar dulu. Dan bisa bahasa daerah lebih baik lagi, lagi pula sekolah di kota kami tinggal juga sekolah biasa yang nggak bilingual. Kata suami, dia dulu baru belajar bahasa inggris saat dibangku sekolah menengah pertama, dan sampai sekarang masih bisa. Jadi alangkah lebih baik jika anak indonesia lebih mengenal dulu 'bahasa ibu' dengan memahami serta mengerti dengan benar bahasa indonesia.
Karena Malik suka main ipad, dan hampir semua permainan di ipad menggunakan bahasa inggris, Malik lumayan bisa deh kalo bahasa inggris dasar. Malah Malik lebih tau urutan angka dan huruf dalam bahasa inggris ketimbang bahasa indonesia. Pekerjaan rumah buat saya nih mengajarkan angka dan huruf sebelum masuk TK nanti ☺. Anak kecil itu daya serap dan ingat nya sangat cepat, Malik sekarang juga sedikit tahu tentang percakapan bahasa jawa serta madura. Namanya juga bersosialisasi, lingkungan sekitar kami kerap kali menggunakan bahasa madura dalam berkomunikasi. Begitu pula saya dan suami, dirumah kami juga menggunakan bahasa jawa dan madura. Maka tidak heran Malik sedikit demi sedikit tahu dengan kosakata madura atau jawa. Saya semakin sadar, bahasa daerah itu juga penting. Karena bahasa salah satu identitas diri kita.Ehm.. kita WNI tapi masa ga bisa bahasa indonesia. Sama juga kita orang madura juga kudu tau bahasa madura dong. 
Jadi bahasa apakah yang akan kita ajarkan untuk anak cucu kita?

Jumat, 07 November 2014

Segala resiko ditanggung orang tua

Beruntung sekali bagi anak yang masih memiliki kakek nenek opa oma lengkap dari pihak ayah maupun ibu. Apalagi tinggal serumah dengan salah satunya, dibalik semua keberuntungan yang didapat, ada sedikit “benci tapi rindu” juga khan? Biasanya sih yang bikin “benci tapi rindu” itu ditujukan untuk mertua. Menantu ini bukan berarti kurang ajar, tapi jika bertentangan dengan kehendak menantu seringnya di pendam dalam hati, rada nggak mungkin juga langsung diomongin to the point, pasti ngadu dulu ke paasangan yang notabene anak si mertua kita. Daripada dibilang menantu durhaka, kalo berdebat yang berujung pertengkaran ama orang tua sendiri sih gpp,lah kalo ama mertua? Sama halnya mertua ke menantunya. Kebanyakan mertua bilang “sesuatu” ke si anak lalu disampaikan ke istri/suami. Kalo ngomong langsung seringnya si menantu jadi bête dan bikin males berkunjung ke rumah mertua. Sifat suami/istri merupakan perpaduan dari sifat kedua orang tuanya, jadi sebagai menantu harusnya kita paham dan maklum jika ada bertentangan dengan kebiasaan kita.
Pernahkah mengalami, “Mama dulu kalo masaknya kayak gini deh.” atau “Kata ummik harus begini.. biar begitu..” kalo saya sih Alhamdulillah belum pernah, dan jangan sampai deh…  atau ada juga ucapan mertua yang bikin hmmmmm… “Dulu waktu si A kecil ga pernah ibu marahin, kamu jangan terlalu keras lah!” bahkan ada juga, “Suami kamu makan apa? Kok bisa sakit seperti ini? Dari kecil nggak pernah sakit seperti ini?” huuuhhfth… ga pernah sih mengalami hal seperti diatas tapi ya jangan sampai lah. Adapula yang begini, “ibu dulu sanggup kok ngelakuin pekerjaan rumah tangga sendiri tanpa pembantu, masa kamu nggak?” atau, “Papaku bisa, masa kamu nggak? Kamu khan kepala rumah tangga harusnya bisa juga dong!” sekali lagi.. jangan pernah membandingkan maupun menyamakan pasangan dengan orang tua kita maupun pasangan orang lain. Sakitnya tuh disini!
 Semacam bête dan kesel tapi ya mau gimana lagi. Jadi ceritanya saat anak sudah tidur dan kemudian ada mertua datang, kira-kira apa yang terjadi? Si anak dibangunin atau si anak ditemenin tidur. Pasti jawaban paling sering adalah si anak dibangunin. Haha.. atau ada  juga cerita si anak minta nginep di rumah mbah kakung atau mbah putri, 2 hari kemudian saat kita jemput tiba-tiba pulang dengan demam atau batuk pilek. Siapa salah? Ya orang tua sih karena uda nitipin dua hari tanpa ditemenin. Hahaha.. cerita yang ini pernah saya alami, sebagai orang tua pasti mengajarkan anak untuk makan yang bergizi, selalu makan sayur dan buah dan banyak minum air putih. Namun beberapa kakek nenek beberapa kali suka membuat si anak melanggar beberapa “pantangan” dengan memberi makanan yang tidak seharusnya di konsumsi anak-anak. Iya, lagi-lagi resiko ditanggung orang tua.
 Semoga nanti kalo punya cucu saya nggak jadi eyang putri yang bikin sebel papa mama cucu saya. Jadi tujuan saya posting ini ke blog sebagai pengingat saya yang kelak akan menjadi mama mertua dan oma cucu-cucu saya, bukan untuk  menyindir ayah ibu mertua atau orang tua saya serta para kalian yang sudah punya cucu. Inginnya kalo nanti  punya cucu saya ajak mereka naik jet pribadi kami dengan mengunjungi pulau-pulau terpencil di Indonesia maupun luar Indonesia. Keren khan?ya gapapalah mimpi, susi aja bisa punya pesawat J

Jumat, 24 Oktober 2014

Minat Tahan Lama


Menurut kamus besar bahasa Indonesia, arti kata konsisten adalah onsisten /kon·sis·ten/ /konsistén/ a 1 tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; 2 selaras; sesuai: perbuatan hendaknya -- dng ucapan
Saya adalah orang yang bisa dibilang tidak konsisten dalam melakukan sesuatu, kurang memiliki komitmen dalam jangka panjang. Misalnya bangun tidur tiba-tiba kepikiran untuk bikin tas, siang itu juga langsung ngeluarin mesin jahit dan kain seadanya,bikin pola lalu jadilah sebuah tas alakadarnya. Namun hal tersebut tak berlangsung lama,beberapa saat kemudian berubah keinginan. Dan hal tersebut tidak terjadi satu atau dua kali, namun berkali-kali. Selalu saja ada alasan mengapa harus berhenti melakukan aktivitas tersebut,kalo kata suami “orang gagal terlalu banyak alasan”. Iya.. saya belum dikatakan gagal sih, tapi hanya malas (lagi-lagi beralasan).
Jika mau dirunut, beberapa kegagalan saya ada berbagai macam. Tahun 2007 saya mengambil kelas jahit dan desain, sudah sampai akhir sesi tiba-tiba berhenti karena males dan merasa bukan bakat yang harus ditekuni(sok-sokan bikin alasan). Beberapa tahun sebelumnya saya suka sekali merangkai batu dan monte menjadi sebuah aksesoris, mencoba peruntungan dengan menjualnya. Lagi-lagi berhenti tiba-tiba karena merasa bahwa desain saya tidak disukai pelanggan(alasan macam apa ini), tapi banyak malesnya juga sih.. hahaha. Ternyata ga bias memaksakan selera desain kepada orang lain. Adapula sebelum menikah,menjajal bisnis furniture, jiyaaah lagi-lagi berhenti karena bête ga nemu gudang, padahal labanya menggiurkan, eh lebih tepatnya bapak ga ngijinin punya usaha di luar kota, sedangkan tukang ga mau diajak migrasi (huahahah alasan fantastis). Ehm.. apalagi ya?? Banyak. Terlalu memalukan untuk diungkapkan. 
Lalu apa yang sebaiknya saya lakukan ya??Mengasah bakat memang penting, maka kita perlu mengetahui minat dan bakat kita sejak usia muda. Menjadi ibu rumah tangga harus memiliki saluran hobby yang tepat dan bergabung dalam sebuah komunitas untuk melepas penat atau jenuh. Jadi, prioritaskan yang penting, gali potensi diri, dan mantapkan aktualisasi diri. Just because we live in a small space, it does not mean we cannot think big. Meskipun kita sibuk mengurus anak dan suami, jangan lupakan kita juga seorang individu yang punya cita-cita. Get in touch with yourself, find your best interest, and start exploring. 

Selasa, 02 September 2014

menjadi nomaden

menurut wikipedia, bangsa nomaden adalah berbagai komunitas masyarakat yang memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain di padang pasir atau daerah bermusim dingin, daripada menetap di suatu tempat. biasanya bangsa nomaden berpindah-pindah untuk mencari sumber makanan.
Kegiatan berpindah-pindah saya ini juga bisa disebut nomaden.
Dari kecil saya pun beberapa kali berpindah kota. Dulu saya lahir di Semarang, kemudian pindah dan besar di Surabaya hingga SD kelas satu lalu pindah ke Malang sampai tamat SD. Sejak kecil hingga tamat SD saya hidup dengan kedua kakek nenek dari pihak ibu. Kemudian selama duduk di bangku SMP saya menetap di Probolinggo dengan kedua orang tua. Lalu meneruskan SMA dan kuliah di kota Surabaya. Setelah lulus hingga menikah, kembali pulang atau urbanisasi ke kota Probolinggo. Pada tahun ke 3 pernikahan kami, suami melanjutkan studi di jakarta. Maka saya dan malik juga mengikuti berpindah ke Jakarta selama hampir 1 tahun. Saat saya menulis postingan ini, saya sedang di kota Denhaag, Belanda. Hahaha.. kali ini tidak pindah kemari, hanya menjadi wisatawan selama 1 bulan, sembari menemani suami menyelesaikan studinya ☺. Dan insyaAllah jika sesuai rencana dan izin Allah, bulan september kami pulang ke 'rumah' kami di Probolinggo.
Yang saya rasa saat ini adalah rindu 'pulang'. Pulang dan berkumpul dengan suami dan malik di rumah kami. Saya kangen menjadi 'ratu' di rumah sendiri. Kangen memasak di dapur sendiri, ingin berkebun di kebun sendiri, pokoknya pengen cepet pulang!

Sabtu, 07 Juni 2014

Pengalaman pertama: dokter gigi


Hari ini dipilih sebagai hari berkunjung ke dokter gigi, ini merupakan pengalaman pertama bagi kami (ayah ibu) mengantar malik periksa gigi di dokter gigi setempat. Kebetulan suami sedang free maka saya memilih hari ini untuk memeriksakan gigi malik. Gigi malik baik-baik saj, eh ga juga sih.. Ada beberapa plak(atau noda) kecoklatan di gigi bagian atas. Karena saya dan suami(banyakan dianya sih) takut gigi malik jadi menghitam kayak anak-anak kebanyakan makan permen. 
Baiklah dengan niat tulus dan beberapa kali menjelaskan perihal dokter gigi dan peralatannya menggunakan media youtube, kami dan malik memutuskan untuk berkunjung ke dokter gigi pada siang ini. Eh baru inget, 2hari sebelumnya saya mengajak malik melihat ruang praktek dokter gigi, ada suster ramah yang menjelaskan dengan konsep anak-anak tentang apa saja peralatan yang ada disitu. Malik pun semakin percaya diri, contohnya saat akan mendaftarkan diri di klinik, malik berani menunjukkan gigi nya yang lubang ke setiap suster yang ditemuinya.
Dokter gigi nya super ramah, ya pastinya lah wong dokter gigi khusus anak, susternya juga supeeeer ramah, ya harus dong dari pada pasien kabur. Say hello dan basa basi seadanya dengan tante dokter, malik masih malu-malu dan sempet menolak duduk di kursi pasien. Setelah bujuk rayu dari pihak orang tua dan tenaga medis, serta pengalihan isu dan lobi politik (heleeeh) akhirnya malik mau diperiksa giginya. Kali ini saya merangkap sebagai kursi pasien, alias mangku malik. 
Awalnya malu-malu, kemudian semakin percaya diri. Malik mau mengikuti semua instruksi tante dokter, mulai dari membuka mulut sampai berkumur-kumur. Ah.. Saya sebenernya terharu, malik bisa seberani ini. Saat gigi malik sedang diperiksa, malik dengan anteng dan tenang menjawab semua pertanyaan tante dokter. Saya yang tegang luar biasa, karena takut malik tiba-tiba menutup mulut saat di periksa atau nangis dan lain sebagainya. Ternyata saya salah, Malik sangat tenang. Setelah itu saya sibuk tanya jawab dengan si dokter, dan malik sibuk dengan ayah pegang-pegang peralatan dokter gigi. 
Ada baiknya sebagai orangtua mengajarkan kepada si anak untuk mengunjungi dokter gigi setiap 6bulan sekali. Boleh sering kalo punya kerabat dokter gigi sih, hahaha... Karena dengan mengajarkan si anak rutin memeriksakan gigi, maka dapat mengurangi ketakutan atau trauma terhadap dokter gigi. Maksudnya, kalo si anak diajak ke dokter gigi pada saat ada keluhan, pasti si anak akan mengalami trauma sehingga menimbulkan rasa malas untuk periksa gigi meski menderita. Orang dewasa aja banyak malesnya, apalagi anak-anak. Ah.. Mulai sekarang saya harus menjalin komunikasi yang baik dengan dokter gigi biar dapet potongan kalo periksa gigi. Wkwwkwkwk... Ampuuuun, dok..